Copas
Dari group FB Group Orang Bener
(Mengubah) Perspektif Orangtua
“You, Asian parents, you don’t raise your kids, you race them …”
Ini kata-kata seorang teachers trainer yang pernah melatih saya, beberapa tahun silam. Ia seorang ekspatriat, yang barangkali bingung melihat kebiasaan kita sebagai warga negara berkode + 62.
Jika diterjemahkan, “raise” = membesarkan, sementara “race” = melombakan. Kurang lebih maksudnya, orang-orang Asia bukan membesarkan anak-anak mereka, melainkan menjerumuskannya dalam persaingan terus menerus (seperti perlombaan).
Saya selalu teringat kalimat ini, saat mengajar di kelas, atau saat membaca atau menyimak diskusi para orangtua. Betapa, terkadang sebagai pendidik, saya pun tak lepas dari dosa ‘melombakan’ murid-murid saya di kelas. Bahwa seharusnya, “reward” saya berikan pada semua murid, tanpa kecuali.
Kalo gitu, ga ada bedanya dong, yang pinter sama yang bodoh?
Mari luruskan terlebih dahulu.
Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, adalah kemampuan yang berbeda-beda.
Bangsa kita sudah terlalu lama menyandingkan kata “pintar” bagi mereka yang memiliki nilai akademis tinggi. Akademis yang mana? Ah ayolah akui saja. Matematika, sains. Itu saja. Itulah mengapa sampai detik ini, di tahun 2019 ini, masih banyak orangtua yang bangga dan memaksa anak-anak mereka masuk jurusan IPA, meski mereka tak suka dengan pelajarannya.
Tempo hari, secara tak sengaja saya bertemu kawan lama di salah satu tempat berbelanja. Dia bercerita, baru saja berbelanja, sekian banyak keperluan anaknya. Maklum, si anak akan mulai bersekolah di boarding school alias sekolah berasrama. Biaya per tahunnya bisa dipakai untuk membeli rumah tipe 21 di pinggiran kota.
“Eh, nih temen Mama, guru bahasa Inggris …” katanya, setelah menyuruh anaknya bersalaman dengan saya.
Entah kenapa, setiap bertemu teman atau saudara yang bawa anak, ini kalimat yang sering mereka ucapkan. “Tante/Teteh Irma ini guru bahasa Inggris loh, sok sana ngobrol, praktekin …” yang selalu membuat saya nyengir. Semacam uji coba untuk anak barangkali, “Emang bener anakku bahasa Inggrisnya bagus, suruh ngobrol dulu aah sama guru bahasa Inggris.” Begitulah.
Kembali ke kisah di atas: saya, kemudian menjabat anak perempuan usia belasan tahun itu.
“Ini kemaren pas tes masuk, bahasa Inggrisnya 96 loh …” teman saya melanjutkan.
“Wow, keren …”
“Tapi matematikanya cuman 52. Makanya besok saya suruh dia ikut ekskul math aja …”
Oh wait …
*Kemarin saya baru saja membaca status seseorang di timeline (or was it a meme?) “Everything before the word BUT is bullshit”.*
Si anak menatap saya sambil tersenyum. Mulutnya sudah monyong-monyong, ingin menukas ibunya.
“Lah, ngapain ikut ekskul? Ekskul tuh harus yang disukai, bukan karena nilainya kecil …” sambut saya.
Kemudian kami semua tertawa.
Saya selalu mengatakan pada siapapun, bahwa tak semua orang wajib pintar matematika, tak semua orang harus mencapai nilai sempurna dalam Fisika, tak semua harus pintar cas cis cus berbahasa asing. Mengapa? Yah, karena setiap orang memiliki kecenderungan dan bidangnya masing-masing.
“Miss, kok bahasa Inggrisku ga bagus terus ya …” seorang murid mengeluh.
“Orang ngerti ga kalo kamu ngomong?”
“Ya lumayan sih …”
“Trus? Kamu butuh nulis jurnal internasional? Butuh skor TOEFL/IELTS tinggi?”
“Ga sih, di kerjaanku cuman butuh percakapan aja.”
“Ya sudah.”
Sekilas, barangkali Anda akan menilai saya sebagai guru yang tidak memotivasi. Padahal yang saya lakukan adalah memberikan apa yang dibutuhkan orang. Tujuan belajar bahasa itu untuk apa? Berkomunikasi saja atau lebih dari itu?
Itulah mengapa, sampai detik ini, saya tak pernah paham mengapa standar soal dalam ujian nasional tingkat SMP-SMA itu memakai genre-based text. Anak-anak diberikan soal berupa teks panjang, kemudian berbuah banyak pertanyaan, yang kesemuanya membutuhkan keterampilan membaca dan analisa.
Sebetulnya tujuannya apa sih, orang-orang yang bikin kurikulum bahasa Inggris ini? Seriusan saya nanya. Karena jenis soal seperti itu cocoknya untuk yang sudah pandai berliterasi. Ujung-ujungnya, anak-anak akan diajari cara cepat strategi menjawab soal ala bimbel. Pemahaman? Jangan harap.
*Tiap bicara masalah kurikulum pasti ujung-ujungnya bikin lieur*
Kembali ke soal orangtua, inilah pentingnya mengubah perspektif seorang ayah dan ibu. Alih-alih memaksakan anak-anak untuk meraih nilai bagus dalam (hampir) semua pelajaran, mengapa tidak mengoptimalkan potensi anak saja?
Anak Anda tidak suka matematika, sukanya gambar. Ya sudah, belikan alat-alat menggambar, dukung terus. Besok lusa, mungkin dia akan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa. Memang, apa salahnya? Nilai matematikanya jelek, ya sudah. Toh kita juga tak tahu seberapa sulitnya matematika anak sekolah zaman sekarang. Kalau mampu, dampingi dan ajari. Kalau ga mampu, ya ga usah dimarahi.
Jangan jadi orangtua yang gampang marah, dikit-dikit marah. Kita selalu merasa “Susah tau jadi orangtua.” Padahal anak juga mikirnya, “Susah tau jadi anak, begini salah, begitu salah.”
Anak Anda ga mau ke IPA, males mikir. Maunya ke IPS saja, biar santai. Biarkan saja. Nanti juga dia tahu kalau di IPS harus banyak baca. Sebab hanya ada dua trik yang bisa dilakukan oleh anak IPS : beneran banyak baca dan pintar, atau banyak nyontek dan hidup dengan cueknya. Itu aja kok. Anak Anda bakal pilih yang mana, kira-kira?
Saya pikir, di zaman milenial seperti sekarang, yang lebih penting dikuatkan pada anak adalah mental. Akademis itu nanti menyusul. Kuatkan mental anak-anak, ajari moral value, didik dengan sentuhan agama. Persoalan apakah nanti anak bisa jadi dokter atau insinyur, lihat anaknya juga dong. Lagian di masa sekarang, profesi yang menghasilkan banyak uang sudah banyak sekali, tidak terbatas seperti zaman baheula.
Nah ini juga.
Orangtua selalu menanamkan bahwa “Kamu harus pintar, kalo kamu pintar nanti dapet sekolahnya bagus, nanti kalo sekolahnya bagus, kerjaannya juga bagus, dapet duit banyak deh.”
Ga ada sangkut-pautnya dengan mencari ilmu. Sama sekali.
Semuanya berujung pada duit – duit – duit. Makanya, banyak orangtua yang menutup mata walau tahu anaknya tukang nyontek. Gapapa deh, yang penting nilainya tinggi. Ya memang gapapa, toh nanti sampai dewasa dia akan terbiasa mencari jalan pintas kok, dalam hidupnya. Kan, Anda yang ngajarin.
Padahal, indahnya tersentuh pendidikan itu sejatinya adalah bercengkerama dengan ilmu dan menikmati enaknya belajar. Belum. Masih banyak orangtua yang pola pikirnya belum sampai ke sana. Kurikulum negeri ini, apalagi.
Itulah mengapa sistem zonasi sekolah menjadi isu yang sangat seksi dan membuat orangtua menjadi buas. Sebab premis ‘sekolah bagus’ masih membayangi pikiran. Nanti-gimana-dong-kalo-anak-saya-sekolahnya-di-sekolah-biasa-aja. Padahal yang menentukan masa depan anak, bukan semata bagusnya sekolah, namun juga kualitas dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.
*Ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk menyediakan keseluruhan pendukung sistem zonasi, dari mulai sistem pendaftaran sampai ketersediaan sekolah*
Ketakutan bahwa anak takkan mencapai prestasi akademis masih menjadi mimpi buruk orangtua. Sebab masih ada anggapan prestasi akademis akan langsung menjamin masa depan anak. Padahal, tidak. Kita sebagai orang dewasa sangat tahu, bahwa di dunia nyata, ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi kerja dan kinerja seseorang.
Menurut ngana, anak yang IPKnya tinggi, pasti bisa langsung kerja dengan gaji sekian digit?
Belum tentu.
Menurut sampean, anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, pasti akan meluncur jatuh di bidang pekerjaan yang dianggap sebagai kasta sudra?
Belum tentu.
Jadi, mengapa kau masih memaksakan anakmu untuk mengikuti apa maumu, untuk meneruskan cita-citamu yang tertunda, Alejandro? Mengapa?
Mereka anakmu secara darah dan daging, namun mereka bukan dirimu.
Dan pada setiap anak, ada potensi besar yang bisa sangat maksimal tergali. Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang menggali, atau bahkan menutup potensi tersebut.
Jangan membuat anakmu, di masa depan, menyesali hari ketika Anda tidak mengizinkannya menari atau melukis, atau membaca komik, atau bermain game. Hanya karena Anda merasa semua kegiatan tersebut tak berguna. Sebab mungkin saja mereka amat berbakat menjadi seorang seniman atau illustrator atau game creator.
Makanya, jangan terlalu sering terpancing orangtua lain yang senang menyombongkan anak mereka.
Anda tau kan, jika beberapa orangtua berkumpul; hanya butuh satu orang sebagai pemicu,
“Alhamdulillah anak saya baru saja juara … bla bla bla …”
Bisa dipastikan orangtua-orangtua yang lain akan ikut komentar.
Dan kalau sudah begitu, biasanya ada dua macam orangtua:
Orangtua anak yang berprestasi : “Waaah hebaaat … Alhamdulillah anak saya juga ….” (menyebutkan prestasi anak).
Orangtua anak yang (tidak memiliki) prestasi : “Wah anaknya hebat-hebat, ga kayak anak saya, disuruh mandi aja susah, apalagi kalau bla bla bla (kemudian menjelek-jelekan anak sendiri).
Anda termasuk yang mana?
Semoga bukan keduanya.
Sebab prestasi anak patut disyukuri, dihargai, namun tidak untuk diklaim sebagai ‘hasil orangtua’, kemudian diumumkan ke seluruh negeri.
Dan kejelekan anak patut diurusi, dibenahi, namun tidak untuk dijadikan perbandingan dengan anak yang lain.
Mari, mengubah perspektif kita sebagai orangtua.
Mengapa?
Sebab, dulu kita juga pernah jadi anak, sebelum jadi orang tua
(Mengubah) Perspektif Orangtua
“You, Asian parents, you don’t raise your kids, you race them …”
Ini kata-kata seorang teachers trainer yang pernah melatih saya, beberapa tahun silam. Ia seorang ekspatriat, yang barangkali bingung melihat kebiasaan kita sebagai warga negara berkode + 62.
Jika diterjemahkan, “raise” = membesarkan, sementara “race” = melombakan. Kurang lebih maksudnya, orang-orang Asia bukan membesarkan anak-anak mereka, melainkan menjerumuskannya dalam persaingan terus menerus (seperti perlombaan).
Saya selalu teringat kalimat ini, saat mengajar di kelas, atau saat membaca atau menyimak diskusi para orangtua. Betapa, terkadang sebagai pendidik, saya pun tak lepas dari dosa ‘melombakan’ murid-murid saya di kelas. Bahwa seharusnya, “reward” saya berikan pada semua murid, tanpa kecuali.
Kalo gitu, ga ada bedanya dong, yang pinter sama yang bodoh?
Mari luruskan terlebih dahulu.
Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, adalah kemampuan yang berbeda-beda.
Bangsa kita sudah terlalu lama menyandingkan kata “pintar” bagi mereka yang memiliki nilai akademis tinggi. Akademis yang mana? Ah ayolah akui saja. Matematika, sains. Itu saja. Itulah mengapa sampai detik ini, di tahun 2019 ini, masih banyak orangtua yang bangga dan memaksa anak-anak mereka masuk jurusan IPA, meski mereka tak suka dengan pelajarannya.
Tempo hari, secara tak sengaja saya bertemu kawan lama di salah satu tempat berbelanja. Dia bercerita, baru saja berbelanja, sekian banyak keperluan anaknya. Maklum, si anak akan mulai bersekolah di boarding school alias sekolah berasrama. Biaya per tahunnya bisa dipakai untuk membeli rumah tipe 21 di pinggiran kota.
“Eh, nih temen Mama, guru bahasa Inggris …” katanya, setelah menyuruh anaknya bersalaman dengan saya.
Entah kenapa, setiap bertemu teman atau saudara yang bawa anak, ini kalimat yang sering mereka ucapkan. “Tante/Teteh Irma ini guru bahasa Inggris loh, sok sana ngobrol, praktekin …” yang selalu membuat saya nyengir. Semacam uji coba untuk anak barangkali, “Emang bener anakku bahasa Inggrisnya bagus, suruh ngobrol dulu aah sama guru bahasa Inggris.” Begitulah.
Kembali ke kisah di atas: saya, kemudian menjabat anak perempuan usia belasan tahun itu.
“Ini kemaren pas tes masuk, bahasa Inggrisnya 96 loh …” teman saya melanjutkan.
“Wow, keren …”
“Tapi matematikanya cuman 52. Makanya besok saya suruh dia ikut ekskul math aja …”
Oh wait …
*Kemarin saya baru saja membaca status seseorang di timeline (or was it a meme?) “Everything before the word BUT is bullshit”.*
Si anak menatap saya sambil tersenyum. Mulutnya sudah monyong-monyong, ingin menukas ibunya.
“Lah, ngapain ikut ekskul? Ekskul tuh harus yang disukai, bukan karena nilainya kecil …” sambut saya.
Kemudian kami semua tertawa.
Saya selalu mengatakan pada siapapun, bahwa tak semua orang wajib pintar matematika, tak semua orang harus mencapai nilai sempurna dalam Fisika, tak semua harus pintar cas cis cus berbahasa asing. Mengapa? Yah, karena setiap orang memiliki kecenderungan dan bidangnya masing-masing.
“Miss, kok bahasa Inggrisku ga bagus terus ya …” seorang murid mengeluh.
“Orang ngerti ga kalo kamu ngomong?”
“Ya lumayan sih …”
“Trus? Kamu butuh nulis jurnal internasional? Butuh skor TOEFL/IELTS tinggi?”
“Ga sih, di kerjaanku cuman butuh percakapan aja.”
“Ya sudah.”
Sekilas, barangkali Anda akan menilai saya sebagai guru yang tidak memotivasi. Padahal yang saya lakukan adalah memberikan apa yang dibutuhkan orang. Tujuan belajar bahasa itu untuk apa? Berkomunikasi saja atau lebih dari itu?
Itulah mengapa, sampai detik ini, saya tak pernah paham mengapa standar soal dalam ujian nasional tingkat SMP-SMA itu memakai genre-based text. Anak-anak diberikan soal berupa teks panjang, kemudian berbuah banyak pertanyaan, yang kesemuanya membutuhkan keterampilan membaca dan analisa.
Sebetulnya tujuannya apa sih, orang-orang yang bikin kurikulum bahasa Inggris ini? Seriusan saya nanya. Karena jenis soal seperti itu cocoknya untuk yang sudah pandai berliterasi. Ujung-ujungnya, anak-anak akan diajari cara cepat strategi menjawab soal ala bimbel. Pemahaman? Jangan harap.
*Tiap bicara masalah kurikulum pasti ujung-ujungnya bikin lieur*
Kembali ke soal orangtua, inilah pentingnya mengubah perspektif seorang ayah dan ibu. Alih-alih memaksakan anak-anak untuk meraih nilai bagus dalam (hampir) semua pelajaran, mengapa tidak mengoptimalkan potensi anak saja?
Anak Anda tidak suka matematika, sukanya gambar. Ya sudah, belikan alat-alat menggambar, dukung terus. Besok lusa, mungkin dia akan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa. Memang, apa salahnya? Nilai matematikanya jelek, ya sudah. Toh kita juga tak tahu seberapa sulitnya matematika anak sekolah zaman sekarang. Kalau mampu, dampingi dan ajari. Kalau ga mampu, ya ga usah dimarahi.
Jangan jadi orangtua yang gampang marah, dikit-dikit marah. Kita selalu merasa “Susah tau jadi orangtua.” Padahal anak juga mikirnya, “Susah tau jadi anak, begini salah, begitu salah.”
Anak Anda ga mau ke IPA, males mikir. Maunya ke IPS saja, biar santai. Biarkan saja. Nanti juga dia tahu kalau di IPS harus banyak baca. Sebab hanya ada dua trik yang bisa dilakukan oleh anak IPS : beneran banyak baca dan pintar, atau banyak nyontek dan hidup dengan cueknya. Itu aja kok. Anak Anda bakal pilih yang mana, kira-kira?
Saya pikir, di zaman milenial seperti sekarang, yang lebih penting dikuatkan pada anak adalah mental. Akademis itu nanti menyusul. Kuatkan mental anak-anak, ajari moral value, didik dengan sentuhan agama. Persoalan apakah nanti anak bisa jadi dokter atau insinyur, lihat anaknya juga dong. Lagian di masa sekarang, profesi yang menghasilkan banyak uang sudah banyak sekali, tidak terbatas seperti zaman baheula.
Nah ini juga.
Orangtua selalu menanamkan bahwa “Kamu harus pintar, kalo kamu pintar nanti dapet sekolahnya bagus, nanti kalo sekolahnya bagus, kerjaannya juga bagus, dapet duit banyak deh.”
Ga ada sangkut-pautnya dengan mencari ilmu. Sama sekali.
Semuanya berujung pada duit – duit – duit. Makanya, banyak orangtua yang menutup mata walau tahu anaknya tukang nyontek. Gapapa deh, yang penting nilainya tinggi. Ya memang gapapa, toh nanti sampai dewasa dia akan terbiasa mencari jalan pintas kok, dalam hidupnya. Kan, Anda yang ngajarin.
Padahal, indahnya tersentuh pendidikan itu sejatinya adalah bercengkerama dengan ilmu dan menikmati enaknya belajar. Belum. Masih banyak orangtua yang pola pikirnya belum sampai ke sana. Kurikulum negeri ini, apalagi.
Itulah mengapa sistem zonasi sekolah menjadi isu yang sangat seksi dan membuat orangtua menjadi buas. Sebab premis ‘sekolah bagus’ masih membayangi pikiran. Nanti-gimana-dong-kalo-anak-saya-sekolahnya-di-sekolah-biasa-aja. Padahal yang menentukan masa depan anak, bukan semata bagusnya sekolah, namun juga kualitas dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.
*Ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk menyediakan keseluruhan pendukung sistem zonasi, dari mulai sistem pendaftaran sampai ketersediaan sekolah*
Ketakutan bahwa anak takkan mencapai prestasi akademis masih menjadi mimpi buruk orangtua. Sebab masih ada anggapan prestasi akademis akan langsung menjamin masa depan anak. Padahal, tidak. Kita sebagai orang dewasa sangat tahu, bahwa di dunia nyata, ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi kerja dan kinerja seseorang.
Menurut ngana, anak yang IPKnya tinggi, pasti bisa langsung kerja dengan gaji sekian digit?
Belum tentu.
Menurut sampean, anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, pasti akan meluncur jatuh di bidang pekerjaan yang dianggap sebagai kasta sudra?
Belum tentu.
Jadi, mengapa kau masih memaksakan anakmu untuk mengikuti apa maumu, untuk meneruskan cita-citamu yang tertunda, Alejandro? Mengapa?
Mereka anakmu secara darah dan daging, namun mereka bukan dirimu.
Dan pada setiap anak, ada potensi besar yang bisa sangat maksimal tergali. Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang menggali, atau bahkan menutup potensi tersebut.
Jangan membuat anakmu, di masa depan, menyesali hari ketika Anda tidak mengizinkannya menari atau melukis, atau membaca komik, atau bermain game. Hanya karena Anda merasa semua kegiatan tersebut tak berguna. Sebab mungkin saja mereka amat berbakat menjadi seorang seniman atau illustrator atau game creator.
Makanya, jangan terlalu sering terpancing orangtua lain yang senang menyombongkan anak mereka.
Anda tau kan, jika beberapa orangtua berkumpul; hanya butuh satu orang sebagai pemicu,
“Alhamdulillah anak saya baru saja juara … bla bla bla …”
Bisa dipastikan orangtua-orangtua yang lain akan ikut komentar.
Dan kalau sudah begitu, biasanya ada dua macam orangtua:
Orangtua anak yang berprestasi : “Waaah hebaaat … Alhamdulillah anak saya juga ….” (menyebutkan prestasi anak).
Orangtua anak yang (tidak memiliki) prestasi : “Wah anaknya hebat-hebat, ga kayak anak saya, disuruh mandi aja susah, apalagi kalau bla bla bla (kemudian menjelek-jelekan anak sendiri).
Anda termasuk yang mana?
Semoga bukan keduanya.
Sebab prestasi anak patut disyukuri, dihargai, namun tidak untuk diklaim sebagai ‘hasil orangtua’, kemudian diumumkan ke seluruh negeri.
Dan kejelekan anak patut diurusi, dibenahi, namun tidak untuk dijadikan perbandingan dengan anak yang lain.
Mari, mengubah perspektif kita sebagai orangtua.
Mengapa?
Sebab, dulu kita juga pernah jadi anak, sebelum jadi orangtua.
Dari group FB Group Orang Bener
(Mengubah) Perspektif Orangtua
“You, Asian parents, you don’t raise your kids, you race them …”
Ini kata-kata seorang teachers trainer yang pernah melatih saya, beberapa tahun silam. Ia seorang ekspatriat, yang barangkali bingung melihat kebiasaan kita sebagai warga negara berkode + 62.
Jika diterjemahkan, “raise” = membesarkan, sementara “race” = melombakan. Kurang lebih maksudnya, orang-orang Asia bukan membesarkan anak-anak mereka, melainkan menjerumuskannya dalam persaingan terus menerus (seperti perlombaan).
Saya selalu teringat kalimat ini, saat mengajar di kelas, atau saat membaca atau menyimak diskusi para orangtua. Betapa, terkadang sebagai pendidik, saya pun tak lepas dari dosa ‘melombakan’ murid-murid saya di kelas. Bahwa seharusnya, “reward” saya berikan pada semua murid, tanpa kecuali.
Kalo gitu, ga ada bedanya dong, yang pinter sama yang bodoh?
Mari luruskan terlebih dahulu.
Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, adalah kemampuan yang berbeda-beda.
Bangsa kita sudah terlalu lama menyandingkan kata “pintar” bagi mereka yang memiliki nilai akademis tinggi. Akademis yang mana? Ah ayolah akui saja. Matematika, sains. Itu saja. Itulah mengapa sampai detik ini, di tahun 2019 ini, masih banyak orangtua yang bangga dan memaksa anak-anak mereka masuk jurusan IPA, meski mereka tak suka dengan pelajarannya.
Tempo hari, secara tak sengaja saya bertemu kawan lama di salah satu tempat berbelanja. Dia bercerita, baru saja berbelanja, sekian banyak keperluan anaknya. Maklum, si anak akan mulai bersekolah di boarding school alias sekolah berasrama. Biaya per tahunnya bisa dipakai untuk membeli rumah tipe 21 di pinggiran kota.
“Eh, nih temen Mama, guru bahasa Inggris …” katanya, setelah menyuruh anaknya bersalaman dengan saya.
Entah kenapa, setiap bertemu teman atau saudara yang bawa anak, ini kalimat yang sering mereka ucapkan. “Tante/Teteh Irma ini guru bahasa Inggris loh, sok sana ngobrol, praktekin …” yang selalu membuat saya nyengir. Semacam uji coba untuk anak barangkali, “Emang bener anakku bahasa Inggrisnya bagus, suruh ngobrol dulu aah sama guru bahasa Inggris.” Begitulah.
Kembali ke kisah di atas: saya, kemudian menjabat anak perempuan usia belasan tahun itu.
“Ini kemaren pas tes masuk, bahasa Inggrisnya 96 loh …” teman saya melanjutkan.
“Wow, keren …”
“Tapi matematikanya cuman 52. Makanya besok saya suruh dia ikut ekskul math aja …”
Oh wait …
*Kemarin saya baru saja membaca status seseorang di timeline (or was it a meme?) “Everything before the word BUT is bullshit”.*
Si anak menatap saya sambil tersenyum. Mulutnya sudah monyong-monyong, ingin menukas ibunya.
“Lah, ngapain ikut ekskul? Ekskul tuh harus yang disukai, bukan karena nilainya kecil …” sambut saya.
Kemudian kami semua tertawa.
Saya selalu mengatakan pada siapapun, bahwa tak semua orang wajib pintar matematika, tak semua orang harus mencapai nilai sempurna dalam Fisika, tak semua harus pintar cas cis cus berbahasa asing. Mengapa? Yah, karena setiap orang memiliki kecenderungan dan bidangnya masing-masing.
“Miss, kok bahasa Inggrisku ga bagus terus ya …” seorang murid mengeluh.
“Orang ngerti ga kalo kamu ngomong?”
“Ya lumayan sih …”
“Trus? Kamu butuh nulis jurnal internasional? Butuh skor TOEFL/IELTS tinggi?”
“Ga sih, di kerjaanku cuman butuh percakapan aja.”
“Ya sudah.”
Sekilas, barangkali Anda akan menilai saya sebagai guru yang tidak memotivasi. Padahal yang saya lakukan adalah memberikan apa yang dibutuhkan orang. Tujuan belajar bahasa itu untuk apa? Berkomunikasi saja atau lebih dari itu?
Itulah mengapa, sampai detik ini, saya tak pernah paham mengapa standar soal dalam ujian nasional tingkat SMP-SMA itu memakai genre-based text. Anak-anak diberikan soal berupa teks panjang, kemudian berbuah banyak pertanyaan, yang kesemuanya membutuhkan keterampilan membaca dan analisa.
Sebetulnya tujuannya apa sih, orang-orang yang bikin kurikulum bahasa Inggris ini? Seriusan saya nanya. Karena jenis soal seperti itu cocoknya untuk yang sudah pandai berliterasi. Ujung-ujungnya, anak-anak akan diajari cara cepat strategi menjawab soal ala bimbel. Pemahaman? Jangan harap.
*Tiap bicara masalah kurikulum pasti ujung-ujungnya bikin lieur*
Kembali ke soal orangtua, inilah pentingnya mengubah perspektif seorang ayah dan ibu. Alih-alih memaksakan anak-anak untuk meraih nilai bagus dalam (hampir) semua pelajaran, mengapa tidak mengoptimalkan potensi anak saja?
Anak Anda tidak suka matematika, sukanya gambar. Ya sudah, belikan alat-alat menggambar, dukung terus. Besok lusa, mungkin dia akan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa. Memang, apa salahnya? Nilai matematikanya jelek, ya sudah. Toh kita juga tak tahu seberapa sulitnya matematika anak sekolah zaman sekarang. Kalau mampu, dampingi dan ajari. Kalau ga mampu, ya ga usah dimarahi.
Jangan jadi orangtua yang gampang marah, dikit-dikit marah. Kita selalu merasa “Susah tau jadi orangtua.” Padahal anak juga mikirnya, “Susah tau jadi anak, begini salah, begitu salah.”
Anak Anda ga mau ke IPA, males mikir. Maunya ke IPS saja, biar santai. Biarkan saja. Nanti juga dia tahu kalau di IPS harus banyak baca. Sebab hanya ada dua trik yang bisa dilakukan oleh anak IPS : beneran banyak baca dan pintar, atau banyak nyontek dan hidup dengan cueknya. Itu aja kok. Anak Anda bakal pilih yang mana, kira-kira?
Saya pikir, di zaman milenial seperti sekarang, yang lebih penting dikuatkan pada anak adalah mental. Akademis itu nanti menyusul. Kuatkan mental anak-anak, ajari moral value, didik dengan sentuhan agama. Persoalan apakah nanti anak bisa jadi dokter atau insinyur, lihat anaknya juga dong. Lagian di masa sekarang, profesi yang menghasilkan banyak uang sudah banyak sekali, tidak terbatas seperti zaman baheula.
Nah ini juga.
Orangtua selalu menanamkan bahwa “Kamu harus pintar, kalo kamu pintar nanti dapet sekolahnya bagus, nanti kalo sekolahnya bagus, kerjaannya juga bagus, dapet duit banyak deh.”
Ga ada sangkut-pautnya dengan mencari ilmu. Sama sekali.
Semuanya berujung pada duit – duit – duit. Makanya, banyak orangtua yang menutup mata walau tahu anaknya tukang nyontek. Gapapa deh, yang penting nilainya tinggi. Ya memang gapapa, toh nanti sampai dewasa dia akan terbiasa mencari jalan pintas kok, dalam hidupnya. Kan, Anda yang ngajarin.
Padahal, indahnya tersentuh pendidikan itu sejatinya adalah bercengkerama dengan ilmu dan menikmati enaknya belajar. Belum. Masih banyak orangtua yang pola pikirnya belum sampai ke sana. Kurikulum negeri ini, apalagi.
Itulah mengapa sistem zonasi sekolah menjadi isu yang sangat seksi dan membuat orangtua menjadi buas. Sebab premis ‘sekolah bagus’ masih membayangi pikiran. Nanti-gimana-dong-kalo-anak-saya-sekolahnya-di-sekolah-biasa-aja. Padahal yang menentukan masa depan anak, bukan semata bagusnya sekolah, namun juga kualitas dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.
*Ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk menyediakan keseluruhan pendukung sistem zonasi, dari mulai sistem pendaftaran sampai ketersediaan sekolah*
Ketakutan bahwa anak takkan mencapai prestasi akademis masih menjadi mimpi buruk orangtua. Sebab masih ada anggapan prestasi akademis akan langsung menjamin masa depan anak. Padahal, tidak. Kita sebagai orang dewasa sangat tahu, bahwa di dunia nyata, ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi kerja dan kinerja seseorang.
Menurut ngana, anak yang IPKnya tinggi, pasti bisa langsung kerja dengan gaji sekian digit?
Belum tentu.
Menurut sampean, anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, pasti akan meluncur jatuh di bidang pekerjaan yang dianggap sebagai kasta sudra?
Belum tentu.
Jadi, mengapa kau masih memaksakan anakmu untuk mengikuti apa maumu, untuk meneruskan cita-citamu yang tertunda, Alejandro? Mengapa?
Mereka anakmu secara darah dan daging, namun mereka bukan dirimu.
Dan pada setiap anak, ada potensi besar yang bisa sangat maksimal tergali. Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang menggali, atau bahkan menutup potensi tersebut.
Jangan membuat anakmu, di masa depan, menyesali hari ketika Anda tidak mengizinkannya menari atau melukis, atau membaca komik, atau bermain game. Hanya karena Anda merasa semua kegiatan tersebut tak berguna. Sebab mungkin saja mereka amat berbakat menjadi seorang seniman atau illustrator atau game creator.
Makanya, jangan terlalu sering terpancing orangtua lain yang senang menyombongkan anak mereka.
Anda tau kan, jika beberapa orangtua berkumpul; hanya butuh satu orang sebagai pemicu,
“Alhamdulillah anak saya baru saja juara … bla bla bla …”
Bisa dipastikan orangtua-orangtua yang lain akan ikut komentar.
Dan kalau sudah begitu, biasanya ada dua macam orangtua:
Orangtua anak yang berprestasi : “Waaah hebaaat … Alhamdulillah anak saya juga ….” (menyebutkan prestasi anak).
Orangtua anak yang (tidak memiliki) prestasi : “Wah anaknya hebat-hebat, ga kayak anak saya, disuruh mandi aja susah, apalagi kalau bla bla bla (kemudian menjelek-jelekan anak sendiri).
Anda termasuk yang mana?
Semoga bukan keduanya.
Sebab prestasi anak patut disyukuri, dihargai, namun tidak untuk diklaim sebagai ‘hasil orangtua’, kemudian diumumkan ke seluruh negeri.
Dan kejelekan anak patut diurusi, dibenahi, namun tidak untuk dijadikan perbandingan dengan anak yang lain.
Mari, mengubah perspektif kita sebagai orangtua.
Mengapa?
Sebab, dulu kita juga pernah jadi anak, sebelum jadi orang tua
(Mengubah) Perspektif Orangtua
“You, Asian parents, you don’t raise your kids, you race them …”
Ini kata-kata seorang teachers trainer yang pernah melatih saya, beberapa tahun silam. Ia seorang ekspatriat, yang barangkali bingung melihat kebiasaan kita sebagai warga negara berkode + 62.
Jika diterjemahkan, “raise” = membesarkan, sementara “race” = melombakan. Kurang lebih maksudnya, orang-orang Asia bukan membesarkan anak-anak mereka, melainkan menjerumuskannya dalam persaingan terus menerus (seperti perlombaan).
Saya selalu teringat kalimat ini, saat mengajar di kelas, atau saat membaca atau menyimak diskusi para orangtua. Betapa, terkadang sebagai pendidik, saya pun tak lepas dari dosa ‘melombakan’ murid-murid saya di kelas. Bahwa seharusnya, “reward” saya berikan pada semua murid, tanpa kecuali.
Kalo gitu, ga ada bedanya dong, yang pinter sama yang bodoh?
Mari luruskan terlebih dahulu.
Tidak ada anak yang bodoh. Yang ada, adalah kemampuan yang berbeda-beda.
Bangsa kita sudah terlalu lama menyandingkan kata “pintar” bagi mereka yang memiliki nilai akademis tinggi. Akademis yang mana? Ah ayolah akui saja. Matematika, sains. Itu saja. Itulah mengapa sampai detik ini, di tahun 2019 ini, masih banyak orangtua yang bangga dan memaksa anak-anak mereka masuk jurusan IPA, meski mereka tak suka dengan pelajarannya.
Tempo hari, secara tak sengaja saya bertemu kawan lama di salah satu tempat berbelanja. Dia bercerita, baru saja berbelanja, sekian banyak keperluan anaknya. Maklum, si anak akan mulai bersekolah di boarding school alias sekolah berasrama. Biaya per tahunnya bisa dipakai untuk membeli rumah tipe 21 di pinggiran kota.
“Eh, nih temen Mama, guru bahasa Inggris …” katanya, setelah menyuruh anaknya bersalaman dengan saya.
Entah kenapa, setiap bertemu teman atau saudara yang bawa anak, ini kalimat yang sering mereka ucapkan. “Tante/Teteh Irma ini guru bahasa Inggris loh, sok sana ngobrol, praktekin …” yang selalu membuat saya nyengir. Semacam uji coba untuk anak barangkali, “Emang bener anakku bahasa Inggrisnya bagus, suruh ngobrol dulu aah sama guru bahasa Inggris.” Begitulah.
Kembali ke kisah di atas: saya, kemudian menjabat anak perempuan usia belasan tahun itu.
“Ini kemaren pas tes masuk, bahasa Inggrisnya 96 loh …” teman saya melanjutkan.
“Wow, keren …”
“Tapi matematikanya cuman 52. Makanya besok saya suruh dia ikut ekskul math aja …”
Oh wait …
*Kemarin saya baru saja membaca status seseorang di timeline (or was it a meme?) “Everything before the word BUT is bullshit”.*
Si anak menatap saya sambil tersenyum. Mulutnya sudah monyong-monyong, ingin menukas ibunya.
“Lah, ngapain ikut ekskul? Ekskul tuh harus yang disukai, bukan karena nilainya kecil …” sambut saya.
Kemudian kami semua tertawa.
Saya selalu mengatakan pada siapapun, bahwa tak semua orang wajib pintar matematika, tak semua orang harus mencapai nilai sempurna dalam Fisika, tak semua harus pintar cas cis cus berbahasa asing. Mengapa? Yah, karena setiap orang memiliki kecenderungan dan bidangnya masing-masing.
“Miss, kok bahasa Inggrisku ga bagus terus ya …” seorang murid mengeluh.
“Orang ngerti ga kalo kamu ngomong?”
“Ya lumayan sih …”
“Trus? Kamu butuh nulis jurnal internasional? Butuh skor TOEFL/IELTS tinggi?”
“Ga sih, di kerjaanku cuman butuh percakapan aja.”
“Ya sudah.”
Sekilas, barangkali Anda akan menilai saya sebagai guru yang tidak memotivasi. Padahal yang saya lakukan adalah memberikan apa yang dibutuhkan orang. Tujuan belajar bahasa itu untuk apa? Berkomunikasi saja atau lebih dari itu?
Itulah mengapa, sampai detik ini, saya tak pernah paham mengapa standar soal dalam ujian nasional tingkat SMP-SMA itu memakai genre-based text. Anak-anak diberikan soal berupa teks panjang, kemudian berbuah banyak pertanyaan, yang kesemuanya membutuhkan keterampilan membaca dan analisa.
Sebetulnya tujuannya apa sih, orang-orang yang bikin kurikulum bahasa Inggris ini? Seriusan saya nanya. Karena jenis soal seperti itu cocoknya untuk yang sudah pandai berliterasi. Ujung-ujungnya, anak-anak akan diajari cara cepat strategi menjawab soal ala bimbel. Pemahaman? Jangan harap.
*Tiap bicara masalah kurikulum pasti ujung-ujungnya bikin lieur*
Kembali ke soal orangtua, inilah pentingnya mengubah perspektif seorang ayah dan ibu. Alih-alih memaksakan anak-anak untuk meraih nilai bagus dalam (hampir) semua pelajaran, mengapa tidak mengoptimalkan potensi anak saja?
Anak Anda tidak suka matematika, sukanya gambar. Ya sudah, belikan alat-alat menggambar, dukung terus. Besok lusa, mungkin dia akan kuliah di Fakultas Desain dan Seni Rupa. Memang, apa salahnya? Nilai matematikanya jelek, ya sudah. Toh kita juga tak tahu seberapa sulitnya matematika anak sekolah zaman sekarang. Kalau mampu, dampingi dan ajari. Kalau ga mampu, ya ga usah dimarahi.
Jangan jadi orangtua yang gampang marah, dikit-dikit marah. Kita selalu merasa “Susah tau jadi orangtua.” Padahal anak juga mikirnya, “Susah tau jadi anak, begini salah, begitu salah.”
Anak Anda ga mau ke IPA, males mikir. Maunya ke IPS saja, biar santai. Biarkan saja. Nanti juga dia tahu kalau di IPS harus banyak baca. Sebab hanya ada dua trik yang bisa dilakukan oleh anak IPS : beneran banyak baca dan pintar, atau banyak nyontek dan hidup dengan cueknya. Itu aja kok. Anak Anda bakal pilih yang mana, kira-kira?
Saya pikir, di zaman milenial seperti sekarang, yang lebih penting dikuatkan pada anak adalah mental. Akademis itu nanti menyusul. Kuatkan mental anak-anak, ajari moral value, didik dengan sentuhan agama. Persoalan apakah nanti anak bisa jadi dokter atau insinyur, lihat anaknya juga dong. Lagian di masa sekarang, profesi yang menghasilkan banyak uang sudah banyak sekali, tidak terbatas seperti zaman baheula.
Nah ini juga.
Orangtua selalu menanamkan bahwa “Kamu harus pintar, kalo kamu pintar nanti dapet sekolahnya bagus, nanti kalo sekolahnya bagus, kerjaannya juga bagus, dapet duit banyak deh.”
Ga ada sangkut-pautnya dengan mencari ilmu. Sama sekali.
Semuanya berujung pada duit – duit – duit. Makanya, banyak orangtua yang menutup mata walau tahu anaknya tukang nyontek. Gapapa deh, yang penting nilainya tinggi. Ya memang gapapa, toh nanti sampai dewasa dia akan terbiasa mencari jalan pintas kok, dalam hidupnya. Kan, Anda yang ngajarin.
Padahal, indahnya tersentuh pendidikan itu sejatinya adalah bercengkerama dengan ilmu dan menikmati enaknya belajar. Belum. Masih banyak orangtua yang pola pikirnya belum sampai ke sana. Kurikulum negeri ini, apalagi.
Itulah mengapa sistem zonasi sekolah menjadi isu yang sangat seksi dan membuat orangtua menjadi buas. Sebab premis ‘sekolah bagus’ masih membayangi pikiran. Nanti-gimana-dong-kalo-anak-saya-sekolahnya-di-sekolah-biasa-aja. Padahal yang menentukan masa depan anak, bukan semata bagusnya sekolah, namun juga kualitas dirinya sendiri sebagai seorang pembelajar.
*Ini diperparah dengan ketidaksiapan pemerintah untuk menyediakan keseluruhan pendukung sistem zonasi, dari mulai sistem pendaftaran sampai ketersediaan sekolah*
Ketakutan bahwa anak takkan mencapai prestasi akademis masih menjadi mimpi buruk orangtua. Sebab masih ada anggapan prestasi akademis akan langsung menjamin masa depan anak. Padahal, tidak. Kita sebagai orang dewasa sangat tahu, bahwa di dunia nyata, ada begitu banyak faktor yang bisa memengaruhi kerja dan kinerja seseorang.
Menurut ngana, anak yang IPKnya tinggi, pasti bisa langsung kerja dengan gaji sekian digit?
Belum tentu.
Menurut sampean, anak yang prestasi akademiknya biasa-biasa aja, pasti akan meluncur jatuh di bidang pekerjaan yang dianggap sebagai kasta sudra?
Belum tentu.
Jadi, mengapa kau masih memaksakan anakmu untuk mengikuti apa maumu, untuk meneruskan cita-citamu yang tertunda, Alejandro? Mengapa?
Mereka anakmu secara darah dan daging, namun mereka bukan dirimu.
Dan pada setiap anak, ada potensi besar yang bisa sangat maksimal tergali. Sayangnya, masih banyak orangtua yang kurang menggali, atau bahkan menutup potensi tersebut.
Jangan membuat anakmu, di masa depan, menyesali hari ketika Anda tidak mengizinkannya menari atau melukis, atau membaca komik, atau bermain game. Hanya karena Anda merasa semua kegiatan tersebut tak berguna. Sebab mungkin saja mereka amat berbakat menjadi seorang seniman atau illustrator atau game creator.
Makanya, jangan terlalu sering terpancing orangtua lain yang senang menyombongkan anak mereka.
Anda tau kan, jika beberapa orangtua berkumpul; hanya butuh satu orang sebagai pemicu,
“Alhamdulillah anak saya baru saja juara … bla bla bla …”
Bisa dipastikan orangtua-orangtua yang lain akan ikut komentar.
Dan kalau sudah begitu, biasanya ada dua macam orangtua:
Orangtua anak yang berprestasi : “Waaah hebaaat … Alhamdulillah anak saya juga ….” (menyebutkan prestasi anak).
Orangtua anak yang (tidak memiliki) prestasi : “Wah anaknya hebat-hebat, ga kayak anak saya, disuruh mandi aja susah, apalagi kalau bla bla bla (kemudian menjelek-jelekan anak sendiri).
Anda termasuk yang mana?
Semoga bukan keduanya.
Sebab prestasi anak patut disyukuri, dihargai, namun tidak untuk diklaim sebagai ‘hasil orangtua’, kemudian diumumkan ke seluruh negeri.
Dan kejelekan anak patut diurusi, dibenahi, namun tidak untuk dijadikan perbandingan dengan anak yang lain.
Mari, mengubah perspektif kita sebagai orangtua.
Mengapa?
Sebab, dulu kita juga pernah jadi anak, sebelum jadi orangtua.
Comments
Post a Comment